Header Ads

Seputar Kaderisasi Organisasi



Bagi seorang aktivis, kata yang melekat dalam dirinya dan aktivitasnya adalah kaderisasi. Kaderisasi yang dimaknai secara utuh, menjadi suatu konsep yang memberikan kemanfaatan bagi suatu gerakan. Bagi beberapa gerakan organisasi, kaderisasi justru menjadi ruh utama untuk menjaga ideologi di dalamnya tetap tumbuh lestari. Sebagai contoh, Nahdlatul Ulama dan organisasi badan otonom yang ada di bawahnya. 

Proses dan rangkaian kaderisasi yang terus dilakukan secara istiqamah, menjadi jaminan dari ideologi organisasi yang terus dimanifestasikan. Kita melihat di dalam tubuh NU, betapa banyak kegiatan kaderisasi yang dilakukan, baik oleh NU maupun banom-banomnya. Salah satu hal yang ditegaskan dalam rangkaian kegiatan kaderisasi-kaderisasi tersebut adalah pentingnya untuk selalu membumikan gerakan Islam Ahlussunnah wal Jamaah, meskipun dibungkus dengan banyak kemasan macam pelatihan kepemimpinan, pelatihan public speaking dan pelatihan kompetensi individu maupun kolektif lainnya. 

Hal inilah yang menegaskan bahwa kaderisasi menempati posisi sentral sebagai guardian of value bagi organisasi yang menjalankan sistem kaderisasi di dalamnya. Kehadirannya tidak bisa dihindarkan, karena manfaatnya dalam menjaga nilai dan ideologi yang begitu optimal. Namun dalam prakteknya, seperti sistem-sistem yang lain, kaderisasi juga menjadi gading yang pasti punya retak. Ada beberapa hal yang perlu diluruskan dalam pelaksanaannya. 

Kaderisasi yang universal 

Dalam prakteknya, kaderisasi pasti memiliki hierarki yang mengartikan bahwa ada tingkatan-tingkata yang harus dilalui oleh seseorang. Dari jenjang yang paling rendah hingga tinggi, kaderisasi menjadi pintu utama yang mengenalkan setiap individu kepada telaah yang lebih mendalam terhadap satu kondisi yang ia akan hadapi. Agar secara sah diterima sebagai anggota PMII, mahasiswa pertama-tama harus mengikuti kaderisasi Mapaba, yang mana di dalamnya dikenalkan terhadap lingkungan mahasiswa dan apa-apa yang akan dihadapi oleh mahasiswa dalam kehidupan perkuliahan. Inilah yang disebut sebagai gerbang pembuka. 

Kaderisasi tanpa sekat 

Selayaknya gerbang pembuka yang harus senantiasa dibuka lebar-lebar, kaderisasi hendaklah menerapkan prinsip terbuka dan menerima siapa saja, sepanjang tidak berseberangan dan menyalahi nilai dan ideologi. Kaderisisi tidak boleh memandang diferensiasi antara profesi, suku, kepentingan politik dan lain-lain. Ia harus senetral mungkin menerima berbagai macam latar belakang, meskipun perlu untuk memahami latar belakang objeknya. 

Dengan cara seperti inilah komposisi kader bisa terpenuhi dari berbagai macam golongan. Serapan kader multi-sektoral seperti inilah yang tentunya akan membuat organisasi lebih hidup, karena kontribusi yang diberikan juga dalam bentuk yang berbeda-beda. 

Kaderisasi yang mencerahkan, tidak jumud dan  berorientasi kepada kompetensi 

Dengan berbagai macam niat yang melatarbelakangi seseorang mengikuti kaderisasi, dapat disimpulkan bahwa mereka berangkat dengan mengantongi harapan positif dan cita-cita yang baik. Harapan untuk menjadi pribadi yang lebih baik daripada yang sebelumnya, dengan pengetahuan dan keterampilan yang terus bertambah dari hari ke hari.  Inilah yang menjadi nilai positif utama daripada pelaksanaan kaderisasi. 

Untuk itu, para kader harus memiliki semangat pencerahan, yakni semangat bahwa setiap nafas kaderisasi adalah gerakan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, bukan justru sebaliknya. Jangan sampai kaderisasi hanya berorientasi kepada doktrinasi-fanatisme semata yang hanya berjalan satu arah. Kecintaan kepada organisasi tidak selalu efektif dilakukan dengan proses doktrinasi 

Kaderisasi adalah pengamalan 

Pada puncaknya, kader dapat dianggap berhasil ketika apa yang ia dapatkan dalam kaderisasi, baik pengetahuan maupun keterampilan diamalkan dan didermakan dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai positif yang diusung organisasi tidak boleh berhenti hanya pada batas wacana saja, wajib hukumnya untuk diamalkan. Pengamalan tersebut hendaklah mempertimbangkan dari sisi subjek, objek dan setting tempat waktu. 

Seorang kader harus memahami bahwa dalam pengamalannya, ia berperan mejadi siapa. Ia juga harus memahami medan yang akan dihadapinya, dengan memahami objek dan latar settingnya. Dengan aksi nyata melalui pengetahuan dan keterapilan, tujuan daripada suatu organisasi akan terwujud nyata dan organisasi tidak hanya sebatas menjadi gerakan wacana dan elitis. 

 

Sumber gambar: https://share.google/images/Obu4icz0JXoXekrOi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.